Rabu, 10 Oktober 2012

PENCULIKAN

Di sautu hari terdapat kerbau yang mengunjungi rumah adiknya. Tidak jauh dari rumah itu, ada macan yang sibuk dengan perencanaannya. Macan tersebut merencanakan untuk menculik adik kerbau tersebut. Demi untuk keberhasilan rencananya, ketika malam tiba sang macan memilih tidur di dekat rumah si adik kerbau itu.

Pagi pun tiba, kerbau kakak beradik itu bangun dan bergegas untuk mencari makanan. Diam-diam sang macan pun mengikuti kerbau kakak beradik itu. Tiba-tiba kakak kerbau merasa bahwa ada yang mengikuti dan dikira adiknya itu mungkin ular. Pada saat itu sang macan loncat langsung ke rerumputan yang besar sehingga tidak dapat diketahui oleh kerbau kakak beradik itu.

Akhirnya mereka menemukan perkebunan wortel dan mereka pun langsung menuju ke perkebunan itu. Tetapi kakaknya menyuruh adiknya untuk menunggu saja di pohon rindang yang tepat di dekat sang macan yang bersembuyi dan kakaknya pergi untuk meminta wortel tersebut. Ketika  kakak kerbau itu kembali untuk menemui adiknya, dia kaget karena adiknya telah hilang dan dia berusaha untuk mencarinya tapi tidak berhasil menemukannya. Kakak kerbau itu pulang dengan wajah yang sedih dan pada saat dia jalan ada yang melihatnya yaitu kancil.

Kancil menanyakan kenapa dia menangis dan kancil pun mengerti perasaan kakak kerbau tersebut. Saat kancil berpikir solusinya dia menemukan jejak macan lalu memberitahukan kepada kakak kerbau itu. Mereka terus mengikuti jejak tersebut hingga sampai di suatu rumah. Pada saat itu kakak kerbau gelisah karena takut pada sang singa atau takut karena adiknya telah dimakan.

Pada keadaan tersebut kancil tidak dapat berpikir dan berusaha untuk menangkan kakak kerbau itu. Lalu mereka mangintip lewat jendala dan kakaknya pun merasa lega karena adiknya belum dimakan. Kemudian kancil mengeluarkan akal cerdiknya. Dan kancil membisikan ke kakak kerbau tentang rencana dan rencananya membuat kakak kerbau itu merasa senang.

Rencana pertamanya adalah melempar  batu yang dibungkus kertas yang berisi tantangan berkelahi dengan penguasa sumur tua ke jendela rumah itu. Rencana tersebut membuat sang macan berlatih keras untuk berkelahi. Ketika itu kancil dan kakak kerbau tertawa karena berhasil di bohongi oleh mereka. Lalu mereka melaksanakan rencana kedua.

Rencana kedua kancil memanggil sang macan dan memberitahukan bahwa penguasa sumur tua tersebut meminta untuk berkelahi sekarang. Denganpemberitahuan tersebut membuat sang macan bergegas untuk pergi ke sumur itu karena penasaran seberapa besar makhluk tersebut. Ketika itu sang macan merasa gugup karena dia belum latihan terlalu lama dan takut kalau yang dia lawan badannya lebih besar dari badannya. Dan pada saat sang macan pergi untuk melawan sang penguasa sumur tua, kakak kerbau membebaskan adiknya.

Setelah tiba di sumur tua, kancil menyuruh sang macan untuk kesan dan melihatnya. Tetapi saat sang macan melihat kedalam sumur dia tidak dapat melihat dan menanyakan kepada kancil"bagaimana aku bisa tahu sebesar apa dia?". Lalu kancil meyuruhnya untuk mengaum ke dalam sumur tua itu dan setelah tahu hasilnya sang macan merasa bahwa makhluk itu pasti lebih besar darinya, dan sebenarnya suara itu adalah suara pantulan dari aumannya yang menggema sehimgga dapat menghasilkan suara berlipat ganda. Kemudian kancil menyuruhnya untuk masuk ke dalam sumur tersebut.

Ketika sang macan berada di dalam sumur dia memberitahu kepada kancil bahwa tidak ada apa-apa di dalam sumur tersebut. Pada saat itu dia merasa bahwa dia telah dibohongi oleh si kancil. Tiba-tiba kancil menycapakan"Makannya jangan menculik orang lain...". Dengan kata-kata kancil tersebut membuat sang macan ingin meminta maaf kepada adik kerbau itu dan meminta tolong kepada kancil untuk dikeluarkan dari sumur itu karena dingin sekali.

Akhirnya kedua kerbau bersaudara datang ke sumur dan memberi tali kepada kancil untuk menolong sang macan. Setelah sang macan dikeluarkan dari sumur dia seperti macan yang tidak berdaya. Kemudian sang macan pun meminta maaf kepada dua kerbau bersaudara. Dan bersama-sama mereka pulang ke rumah masing-masing dengan damai.

HASAN NABIL-SMUTH    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar